Salamfina Sunan Ingin Punya Anak dengan Cari Donor Sperma, Samakah Prosesnya dengan Bayi Tabung?

Utri dari pengacara kondang Sunan Kalijaga, Salmafina Sunan, mengaku dirinya ingin mempunyai anak tanpa menikah dengan seorang lelaki. Mantan istri dari Taqy Malik ini pun sedang mencari donor sperma demi mewujudkan keinginannya tersebut. Hal ini disampaikan oleh sendiri oleh Salmafina Sunan melalui instagram story nya beberapa hari yang lalu.

Ia juga tidak melewatkan informasi mengenai kelebihan serta kekurangan dari metode ini. "I mean bisa have kids tanpa suami, cari sperm donor aja. Ada European sperm bank, udah research juga ku + (plus) (minus) nya apa," tulisnya. Sebenarnya, menadapat donor sprema dari seseorang yang sama sekali tidak kita ketahui mempunyai risiko yang serius.

Melansir Suar.grid.id, menurut pakar bayi tabung dr. Budi Wiweko, SpOG, risiko dari menerima donor sperma adalah riwayat genetik yang tidak jelas. "Donor sperma menyebabkan riwayat genetik yang enggak jelas. Bisa muncul masalah sosial dalam kehidupan nantinya termasuk medikolegal," ujar dokter yang akrab disapa Iko ini. Tidak hanya risikonya, ada beberapa metode yang harus dijalani Salmafina apabila ia masih ingin menerima donor sperma ini.

Berdasarkan jurnal Leeds Centre for Reproductive Medicine dari rumah sakit Leeds Teaching NHS Trust, Inggris, setidaknya ada 3 metode perawatan yang dapat dilakukan penerima donor sperma. Ini adalah metode pengobatan yang relatif sederhana, yang mungkin sesuai jika pada pemeriksaan penerima wanita tidak menunjukkan kelainan. Sperma dapat diletakkan di leher rahim (sebagai preparasi semen yang dicairkan) yang sering disebut Intra Cervical Insemination atau ICI, atau langsung ke dalam rahim biasanya disebut Intra Uterine Insemination (IUI).

Sebenarnya, IUI lebih berhasil daripada ICI karena sperma dipersiapkan karena sperma dipersiapkan dengan hati hati sehingga hanya sperma motil aktif yang baik yang ditempatkan di dalam rahim. Memilih waktu yang tepat untuk melakukan ini juga harus diperhatikan. Biasanya penerima harus memantau siklus menggunakan alat prediksi ovulasi.

Alat ini bekerja dengan cara mengukur hormon dalam urin dan akan menunjukkan kapan ovulasi kemungkinan terjadi, ovulasi biasanya terjadi dalam 24 hingga 36 jam ke depan. Keputusan mengenai waktu inseminasi akan diambil berdasarkan ukuran folikel yang mengandung telur dan saat urine menunjukkan perubahan warna. Jika kehamilan masih gagal dalam tiga siklus pengobatan pertama, maka cara lainnya adalah menggunakan kombinasi stimulasi hormon inseminasi ovarium dan inseminasi intra uterus.

Penggunaan obat kesuburan ini mendorong banyak telur untuk berkembang secara bersamaan, sehingga bisa meningkatkan peluang hamil. Ketika banyak telur dilepaskan, risiko kehamilan bayi kembar juga meningkat. Agar tidak terjadi kehamilan kembar tingkat tinggi (misalnya lebih dari sepasang) atau dari stimulasi ovarium yang berlebihan, cara menguranginya adalah dengan membatasi jumlah folikel dewasa.

Melalui vaginal scanning, pihak medis akan memonitor laju pertumbuhan folikel, jumlah folikel, dan perkembangan lapisan rahim dan akan menyarankan waktu optimal untuk inseminasi intrauterin (IUI). Sama seperti proses bayi tabung pada umumnya, proses fertilisasi ini terjadi di luar tubuh atau in vitro. Setelah sel telur dan sperma dipanen atau diperoleh, mereka disatukan di lingkungan laboratorium untuk memungkinkan sperma membuahi sel telur.

Sekitar 2 hingga 5 hari setelah pembuahan, satu atau lebih telur terbaik yang telah dibuahi dimasukkan ke dalam rahim menggunakan kateter. Sama seperti IVF, ICSI (Intracytoplasmic sperm injection atau Injeksi sperma intrasitoplasma), merupakan prosedur di mana sel sperma individu dimasukkan ke dalam sel telur di lingkungan laboratorium. Sebelum melakukan prosedur di atas, pihak medis akan lebih dulu memeriksa penerima donor sperma dahulu.

Pada rumah sakit ini, dokter akan memeriksa karakteristik fisik seperti tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh, warna rambut, warna kulit, warna mata, ras dan golongan darah, dan lainnya. Dalam jurnal ini disebutkan bahwa jumlah donor relatif lebih sedikit dan pencocokan terhadap detail jauh enjadi lebih sulit. Pihak medis akan selalu mencocokan asal etnis dan golongan darah rhesus terlebih dahulu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *