Begini Cara Masyarakat Cirebon Peringati Bulan Syawal

Bagi umat Islam, bulan Syawal tentu menjadi momen istimewa. Pasalnya, hari raya Idulfitri jatuh pada bulan ini. Banyak pula yang bilang, bulan Syawal adalah saat untuk memanen amalan Ramadan sebelumnya. Tak heran jika banyak yang memperingati bulan ini dengan berbagai tradisi khusus.

Cirebon, sebagai kota dengan sejarah Islam dan kebudayaan yang kental, juga memiliki tradisi khusus dalam memperingati bulan Syawal. Lantas, seperti apa sih uniknya peringatan Syawalan di Kota Udang ini?

Seusai menjalankan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal, warga Cirebon biasanya membagikan nasi sebagai bentuk syukur

Warga yang menerima zakat fitrah biasanya memberikan ucapan terima kasih kepada para muzakki dengan memberikan nasi, baik berupa nasi kuning maupun nasi campur. Pemberian nasi kuning sebagai bentuk syukur kepada Tuhan dan tanda terima kasih untuk masyarakat ini lazimnya dilakukan pada hari ke-7 Syawal, seusai menjalankan puasa sunnah.

Namun, tradisi ini lebih sering ditemukan di wilayah perkampungan Cirebon. Warga perkotaan umumnya sudah jarang mempraktikkan tradisi nasi Syawalan. Meski tidak wajib hukumnya bagi penerima zakat untuk memberikan bingkisan atau tanda terima kasih, tradisi ini dapat dianggap sebagai simbol solidaritas antar masyarakat.

Di Cirebon, peringatan Syawalan biasanya dipusatkan di Makam Sunan Gunung Jati

Makam Sunan Gunung Jati selalu dipadati pada momen hari besar keagamaan, termasuk di bulan Syawal. Biasanya, setelah Grebeg Syawal, kerabat keraton berbondong-bondong menuju kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati untuk berziarah.

Tradisi Syawalan Gunung Jati merupakan ungkapan kasih sayang warga Cirebon terhadap para pendakwah dan leluhur, termasuk Sunan Gunung Jati, yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.Warga dan kerabat Keraton Kanoman yang melakukan tradisi Syawalan Gunung Jati umumnya membawa beras dan uang untuk disumbangkan di daerah tempat persemayaman Sunan Gunung Jati.

Sultan Keraton tak ketinggalan memberikan persembahan berupa saweran untuk warga sekitar serta menutup ritual dengan mandi di tujuh sumur suci. Bagi warga Cirebon, ritual tersebut lebih dikenal dengan istilah ngalap berkah.

Peringatan ini tentunya menjadi hal menarik bagi warga setempat serta pengunjung yang datang ke Cirebon untuk mudik atau sekadar singgah. Peringatan Syawalan di Cirebon selalu digelar dengan meriah tanpa mengabaikan nilai-nilai religius sebagai dasar diperingatinya tradisi Syawalan. Di kawasan pedesaan Cirebon, Syawalan juga diperingati dengan acara tahlilan dan tausyiah yang diakhiri dengan pembagian hasil bumi kepada warga setempat, terutama fakir miskin.

Warga Cirebon masih punya banyak tradisi dan ritual adat unik dalam memperingati hari besar keagamaan. Warisan budaya ini sudah sepatutnya kita lestarikan sebagai simbol akulturasi antara nilai religius dan kebudayaan setempat.

Bila ingin melihat sisi lain dari kebudayaan Cirebon, datanglah pada momen khusus seperti Hari Jadi Kota Cirebon yang jatuh pada tanggal 1 Muharram dalam penanggalan Hijriyah. Keraton Cirebon kerap menggelar ritual yang menarik untuk diikuti warga lokal maupun mendatang.

Bagaimana dengan Anda, sudah siap menjelajahi keunikan budaya Kota Udang? Sebelum melancong, persiapkan segala keperluannya secara matang, mulai dari transportasi hingga penginapan. Sebagai kota transit dengan perkembangan ekonomi pesat, Cirebon sarat akan sarana penunjang pariwisata dan bisnis, seperti hotel.

Anda dapat dengan mudah menemukan hotel di Cirebon di pusat keramaian maupun transportasi. Bagi yang bepergian dengan bujet, manfaatkan hotel bujet ramah backpacker seperti Airy sebagai pilihan akomodasi terbaik yang mampu memberikan jaminan fasilitas terbaik. Dengan 7 jaminan fasilitasnya serta proses booking hotel yang cepat dan mudah, Anda tidak perlu repot saat akan melancong ke luar kota. Segera persiapkan perjalanan liburan Anda sekarang juga!

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *